Be Skizo-friend

“Saya pandai menghapal Al-qur’an, dulu saya pernah ikut lomba tahfiz tingkat nasional..”

 Sementara saya dan teman-teman asik mendengarkan celotehan Iman, seorang teman laki-laki tengah sibuk menghindari kejaran Lila, gadis 15 tahun yang tampaknya tertarik dengan laki-laki satu-satunya yang datang hari itu. Ini cuplikan cerita yang saya alami waktu berkunjung ke Rumah Sakit Jiwa Islam di daerah Klender, Jakarta Timur (1/7/12).

Iman adalah orang pertama di tempat itu yang saya dengar kisah hidupnya. Ia berperawakan tenang. Tidak seperti bayangan saya soal RSJ yang berisi orang-orang dengan kesulitan pengedalian diri. Selain tenang, Iman juga tampak alim memakai koko, sarung dan peci. Meski tampil seperti itu, tetap ada perasaan takut, karena saya tahu, kalau tidak sakit, Iman tidak akan ada di sini. Iman dengan lancar mengatakan ia lulusan pesantren, seorang tahfiz handal yang sering mengikuti berbagai perlombaan, bahkan menjadi perwakilan Indonesia untuk lomba tingkat internasional, tetapi kalah. Saya sebetulnya percaya saja, kalau saja teman saya, yang seorang mahasiswi psikologi, tidak terus menahan senyumnya diam diam.

Seketika itu saya sadar. Saya sedang berada di Rumah Sakit Jiwa. Cerita siapa yang sekarang saya dengarkan? Usai menemani Iman, kami bergerak menelusuri bangsal perempuan, yang siang itu sedang beristirahat di luar kamar. Tiga orang wanita bercakap-cakap dengan rombongan peserta yang lain. Mereka semua tampak seperti ibu-ibu rumah tangga biasa. Seperti sedang berkumpul dalam arisan tetangga. Tetapi sekali lagi saya teringat bahwa mereka ada di sini pasti karena suatu alasan. Mungkin, selain Lila –gadis yang tampak terbelakang- orang yang terlihat jelas sakitnya adalah Rani. Gadis 14 tahun yang saat itu berada di kamar isolasi. Rani terus memukul-mukul pintu kamarnya minta dikeluarkan. Dari situlah saya baru merasa saya benar-benar ada di Rumah Sakit Jiwa.

Setelah berkumpul dengan para penghuni RSJ tersebut, kami diajak petugas RSJ, Pak Deni, untuk melihat-lihat berkas para penghuni. agar dapat mengetahui lebih jelas riwayat hidup, penyebab dan jangka waktu tinggal mereka di RSJ ini. Barulah saya tahu, masing-masing dari mereka, walau terlihat baik-baik saja, memiliki latar belakang penyakit yang cukup serius, dan berbeda-beda. Bipolar, depresi berat, paranoid, delusi waham kebesaran. Dan seperti yang sudah saya duga, hampir saja saya tertipu oleh kisah hidup Iman, si tahfiz handal. Iman menderita delusi waham kebesaran.

Waham kebesaran berarti ia mempercayai kehidupan yang biasanya lebih hebat dari yang dimilikinya, bahkan pada tingkat seakan-akan kehidupan buatan itu adalah asli kehidupannya.

Teman saya yang benar percaya sungguh kesal saat tahu kisah Iman hanya fantasi belaka.😀

Pengalaman saya selama kurang lebih lima jam di RSJ klender tersebut sangat berharga. Mengingat saya juga mendalami psikologi, observasi langsung seperti itu sangat penting bagi saya. Meski saya sudah pernah mempelajari penyakit-penyakit jiwa tersebut di kelas, melihat dan berhubungan langsung terasa berbeda, dan tentunya menyenangkan. 

Yang pasti, saya merasakan syukur yang dalam atas kesehatan yang diberikan Allah SWT pada saya dan orang-orang yang saya sayangi sampai saat ini, bahkan untuk menulis kisah ini. 

Ana’s images

NB: Nama-nama yang ada di sini bukan nama sebenarnya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s